SURAU.CO. Di era modern yang serba cepat, banyak orang melihat makan hanya sebagai pengisi perut, bukan bagian dari ibadah. Kita sering fokus pada rasa, namun melupakan makna di baliknya. Padahal, setiap suapan makanan memiliki dimensi spiritual, sosial, dan ekologis yang mendalam. Islam mengajarkan, “Kulu mimma fil ardhi halalan thayyiban” yang artinya makanlah dari yang halal lagi baik (QS. Al-Baqarah: 168). Dua kata sederhana ini –halalan thayyiban– menyimpan makna yang begitu kaya.
Memahami Konsep Halal: Lebih dari Sekadar Label
Kata ‘halal’ berarti diizinkan sesuai dengan hukum syariat. Ini bukan sekadar label, melainkan penegasan bahwa makanan harus suci zatnya. Selain itu, cara memperolehnya pun harus bersih yang artinya makanan halal tidak boleh berasal dari hasil korupsi, penipuan, atau eksploitasi dan lainnya.
Makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga nilai moral. Rasulullah Saw mengingatkan bahwa setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, neraka lebih pantas baginya. Makan menjadi tindakan fisik sekaligus ujian kejujuran dan keberkahan.
Makna Thayyib: Baik, Sehat, dan Menyehatkan
Sementara itu, ‘thayyib’ berarti baik, bersih, sehat, dan menyehatkan. Tidak semua yang halal otomatis thayyib. Contohnya, gorengan dengan minyak berlebihan mungkin halal, tetapi tidak baik bagi tubuh.
Habib Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa makanan halalan thayyiban tidak merugikan siapa pun. Ini berarti tidak merugikan tubuh, jiwa, dan lingkungan. Konsep ini menunjukkan keseimbangan antara dimensi spiritual dan ilmiah dalam ajaran Islam.
Sains Mendukung Ajaran Halalan Thayyiban
Penelitian modern semakin memperkuat hikmah ajaran ini. Alzeer, Rieder, dan Abou Hadeed (2018) menemukan bahwa makanan organik dapat menurunkan risiko penyakit kronis. Makanan alami dan bersih dari bahan kimia berbahaya mencegah kanker dan diabetes.
Sementara itu Shafie dan Othman (2006) mencatat bahwa penyembelihan Islami menghasilkan daging lebih segar dan sehat. Proses ini mengurangi stres pada hewan. Jelaslah bahwa syariat Islam bukan sekadar ritual, melainkan ilmu yang mendahului sains.
Makanan halalan thayyiban juga merupakan bentuk pengabdian spiritual. Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt itu baik dan hanya menerima yang baik.” (HR. Muslim). Dengan mengonsumsi makanan yang halal dan baik, seorang muslim sebenarnya sedang menjaga kesucian doan, pikiran dan amalnya. Banyak doa yang tidak terkabul sejatinya karena seseorang memakan yang haram.
Tantangan Kesadaran Konsumsi di Era Modern
Namun, kesadaran ini sering tergerus oleh budaya konsumtif. Label “halal” kerap menjadi formalitas industri, bukan kesadaran etis. Padahal, makanan halalan thayyiban menuntut lebih dari sekadar sertifikat. Ini membutuhkan spiritual awareness—kesadaran bahwa setiap makanan adalah bagian dari ibadah. Kita perlu bertanya: dari mana makanan ini berasal? Apakah cara memperolehnya adil? Apakah memberi manfaat bagi tubuh dan bumi? Pertanyaan ini membentuk etika konsumsi yang bertanggung jawab.
Secara ilmiah, makanan thayyib harus mengandung gizi seimbang. Protein, karbohidrat, vitamin, mineral, serat, dan air harus dalam kadar proporsional. Islam menolak sikap berlebihan (israf) dalam makan. Firman Allah menegaskan, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Menjaga keseimbangan gizi dan porsi bukan hanya anjuran dokter. Ini juga perintah agama yang penting.
Jalan Menuju Keberkahan Hidup
Lebih dari sekadar sehat, halalan thayyiban adalah jalan menuju keberkahan hidup. Makanan bersih menumbuhkan tubuh kuat, jiwa tenang, dan hati jernih. Sebaliknya, makanan haram atau kotor bisa menggelapkan nurani. Ini membuat doa tertolak dan hati kehilangan sensitivitas terhadap kebenaran. Oleh karena itu, memilih makanan bukan hanya urusan kesehatan tetapi juga urusan iman yang mendalam.
Islam tidak hanya melarang yang haram lebih dari itu juga mengajarkan kesadaran ekologis. Manusia tidak boleh merusak bumi demi memuaskan nafsunya. Ketika Allah Swt memerintahkan makan yang halal lagi baik, itu berarti manusia harus menjaga rantai pangan yang harus tetap bersih, dari sawah hingga meja makan kita. Ini adalah tanggung jawab kita bersama.
Halalan Thayyiban: Manifestasi Iman yang Hidup
Halalan thayyiban bukan sekadar prinsip diet Islami. Ini adalah manifestasi dari iman yang hidup. Ia menyatukan dimensi lahir dan batin juga sains dan spiritualitas serta menyatukan pula tubuh dan jiwa. Di era makanan cepat saji dan produksi massal, prinsip ini menjadi oase kesadaran. Apa yang kita makan menentukan siapa kita.
Maka, mari kembali pada ajaran sederhana namun mendalam itu. Makanlah yang halal lagi baik. Dengan begitu, tubuh sehat, jiwa tenang, dan doa kita sampai kepada Sang Pemberi Rezeki. (kareemustofa)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
