Bepergian atau melakukan safar adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam Islam, perjalanan bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah aktivitas yang kaya akan nilai ibadah, hukum, dan hikmah. Allah SWT dan Rasulullah SAW telah mengajarkan Adab Perjalanan Safar yang membimbing umat Muslim dalam setiap perjalanannya, menjadikan safar sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Memahami adab perjalanan sangat penting. Ini bukan hanya tentang tata cara praktis, tetapi juga melibatkan dimensi spiritual dan sosial. Ketika seseorang memahami adab safar, ia dapat menjalani perjalanannya dengan lebih tenang, aman, dan penuh keberkahan. Adab ini mencakup persiapan sebelum berangkat, perilaku selama perjalanan, hingga kepulangan. Dengan mengamalkan adab-adab ini, setiap langkah dalam perjalanan dapat bernilai pahala.
Persiapan Sebelum Berangkat: Fondasi Safar yang Berkah
Sebuah perjalanan yang baik dimulai dengan persiapan yang matang. Dalam Islam, persiapan ini tidak hanya bersifat materiil, tetapi juga spiritual.
-
Niat yang Ikhlas: Niat adalah pondasi setiap amal. Sebelum berangkat, pastikan niat safar adalah untuk tujuan yang baik, seperti mencari ilmu, silaturahim, berdagang yang halal, atau menunaikan ibadah haji/umrah. Niat karena Allah akan mengubah perjalanan biasa menjadi ibadah.
-
Meminta Izin dan Berpamitan: Penting untuk meminta izin kepada orang tua, istri, atau kerabat dekat. Berpamitan dengan keluarga dan tetangga adalah sunnah yang menguatkan tali silaturahim. Ini juga dapat memberikan ketenangan batin bagi yang bepergian maupun yang ditinggalkan.
-
Membayar Hutang dan Menulis Wasiat: Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menyelesaikan urusan hutang dan menulis wasiat sebelum bepergian jauh. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di jalan. Ini adalah bentuk kehati-hatian dan tanggung jawab seorang Muslim.
-
Menyiapkan Bekal yang Cukup: Bawalah bekal yang cukup untuk diri sendiri dan juga untuk bersedekah di jalan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 197, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” Meski demikian, bekal materiil juga diperlukan untuk kelancaran perjalanan.
-
Memilih Teman Perjalanan: Jika memungkinkan, pilihlah teman perjalanan yang saleh dan dapat dipercaya. Teman yang baik akan saling mengingatkan dalam kebaikan dan membantu saat kesulitan.
-
Memohon Keselamatan dengan Shalat Sunnah Safar: Sebelum meninggalkan rumah, disunnahkan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Setelah shalat, panjatkan doa memohon keselamatan dan kelancaran perjalanan kepada Allah SWT.
-
Doa Keluar Rumah: Ketika melangkahkan kaki keluar rumah, bacalah doa: “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah.” Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”
Adab Selama Perjalanan: Menjaga Etika dan Ibadah
Selama perjalanan, seorang Muslim tetap dituntut untuk menjaga adab dan tidak melupakan kewajibannya.
-
Berdoa Saat Naik Kendaraan: Saat naik kendaraan, bacalah doa naik kendaraan: “Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wama kunna lahu muqrinin, wa inna ila rabbina lamunqalibun.” Artinya: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”
-
Memperbanyak Dzikir dan Doa: Perjalanan adalah waktu yang baik untuk memperbanyak dzikir, istighfar, dan doa. Doa musafir adalah salah satu doa yang mustajab. Manfaatkan waktu ini untuk mendekatkan diri kepada Allah.
-
Menjaga Pandangan dan Perilaku: Tetap jaga adab dalam berbicara dan bersikap. Hindari ghibah, namimah, atau perkataan sia-sia. Jaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan.
-
Menjaga Shalat: Meskipun dalam perjalanan, shalat wajib tetap harus dilaksanakan. Islam memberikan keringanan bagi musafir untuk menjamak (menggabungkan) dan mengqashar (memperpendek) shalat fardhu. Ini adalah kemudahan dari Allah yang harus dimanfaatkan.
-
Berbuat Baik kepada Sesama Musafir: Tunjukkan akhlak mulia dengan membantu sesama musafir, berbagi bekal, atau memberikan senyuman. Ini akan menciptakan suasana perjalanan yang harmonis.
-
Memperhatikan Lingkungan: Jaga kebersihan tempat singgah dan hindari merusak lingkungan. Seorang Muslim adalah pelindung alam.
Hikmah di Balik Adab Perjalanan (Safar)
Setiap syariat Islam pasti memiliki hikmah yang mendalam. Adab safar bukan pengecualian.
-
Meningkatkan Ketakwaan: Dengan mengikuti adab safar, seorang Muslim senantiasa mengingat Allah dalam setiap langkahnya, yang pada akhirnya meningkatkan ketakwaan.
-
Memperluas Wawasan dan Ilmu: Perjalanan seringkali membuka mata terhadap budaya, adat istiadat, dan ciptaan Allah lainnya. Ini memperluas wawasan dan meningkatkan ilmu pengetahuan.
-
Mengambil Pelajaran dari Alam: Alam semesta adalah ayat-ayat Allah yang terhampar luas. Perjalanan memungkinkan kita merenungkan kebesaran Sang Pencipta.
-
Mempererat Silaturahim: Kunjungan ke kerabat atau teman jauh dapat mempererat tali silaturahim yang dianjurkan dalam Islam.
-
Menumbuhkan Kemandirian dan Kesabaran: Perjalanan seringkali penuh tantangan. Ini melatih kemandirian, kesabaran, dan kemampuan beradaptasi.
-
Mensyukuri Nikmat Allah: Saat melihat berbagai kondisi di perjalanan, kita akan lebih menghargai nikmat keamanan, kesehatan, dan kenyamanan yang sering terlupakan di rumah.
Doa Ketika Singgah di Suatu Tempat:
Ketika seorang musafir singgah di suatu tempat, baik untuk beristirahat atau bermalam, disunnahkan membaca doa berikut: “A’udzu bikalimatillahittammati min syarri ma khalaq.” Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang diciptakan-Nya.” Doa ini memohon perlindungan dari segala bahaya yang mungkin ada di tempat singgah tersebut.
Setelah menyelesaikan perjalanan dan hendak kembali ke rumah, Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus. Saat dalam perjalanan pulang dan melihat pemandangan kota asal, disunnahkan membaca: “Aayibuuna taa’ibuuna ‘aabiduuna lirabbinaa haamiduun.” Artinya: “Kami kembali, kami bertaubat, kami beribadah, dan kami memuji Tuhan kami.” Ini adalah ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan kelancaran yang Allah berikan.
Kesimpulan
Adab perjalanan (safar) dalam Islam adalah panduan komprehensif yang mencakup setiap aspek bepergian, dari persiapan hingga kepulangan. Mengamalkan adab-adab ini tidak hanya menjamin kelancaran dan keselamatan fisik, tetapi juga memperkaya dimensi spiritual perjalanan. Dengan niat yang lurus, doa yang tak henti, dan akhlak yang mulia, setiap safar dapat menjadi ibadah yang mendatangkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT. Semoga kita semua dapat menjadi musafir yang senantiasa menjaga adab-adab ini dan mengambil hikmah dari setiap perjalanan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
