SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah
Beranda » Berita » Masjid Agung Aleppo: Jejak Kejayaan Islam di Jantung Suriah

Masjid Agung Aleppo: Jejak Kejayaan Islam di Jantung Suriah

Masjid Agung Aleppo: Jejak Kejayaan Islam di Jantung Suriah
Ilustrasi Masjid Agung Aleppo (Foto: Istimewa)

SURAU.CO – Kota Aleppo di Suriah menjadi saksi hidup perjalanan panjang peradaban manusia. Terletak di bagian utara negara itu, Aleppo dikenal sebagai salah satu kota tertua di dunia yang sudah berdiri sejak abad ke-11 Sebelum Masehi (SM). Berabad-abad lamanya, berbagai bangsa besar menguasai kota ini—mulai dari Sumeria, Akadia, Babilonia, hingga Romawi dan Bizantium. Namun, sejarah Aleppo berubah arah ketika Islam menancapkan benderanya pada tahun 637 Masehi. Sejak saat itu, Aleppo tumbuh menjadi kota terkemuka dalam bidang ekonomi, kebudayaan, dan arsitektur Islam.

Letak Aleppo yang strategis di jalur perdagangan antara Laut Tengah dan Mesopotamia membuatnya berkembang pesat sebagai pusat ekonomi yang ramai. Berbagai dinasti Islam—seperti Umayyah, Abbasiyah, Hamdaniyah, Seljuk, Zankiyah, Ayubiyah, Mamluk, hingga Usmani—membangun warisan arsitektur yang indah dan beragam di kota ini. Karena kekayaan budaya itu, pada tahun 2006 Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) menobatkan Aleppo sebagai Ibu Kota Kebudayaan Islam.

Salah satu peninggalan monumental yang memperlihatkan kebesaran kota ini ialah Masjid Agung Aleppo. Masjid ini melambangkan kejayaan dan kemegahan seni arsitektur Islam klasik. Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah memerintahkan pembangunan masjid tersebut antara tahun 715 hingga 717 M. Para arsitek merancangnya dengan meniru gaya Masjid Agung Damaskus, karena kedua masjid itu dibangun hampir bersamaan di bawah satu pemerintahan.

Seiring waktu, berbagai peristiwa menghantam masjid ini. John Warren dalam bukunya Architecture of The Islamic World: Syria, Jordan, Israel, and Lebanon menjelaskan bahwa Masjid Agung Aleppo pernah terbakar hebat sebelum Nur ad-Din Mahmud Zanki membangunnya kembali secara total pada tahun 1158. Namun, pada tahun 1260 pasukan Mongol menghancurkan sebagian bangunannya, sehingga para penguasa berikutnya harus merekonstruksinya lagi.

Keunikan Menara Segi Empat

Masjid Agung Aleppo menonjol karena menaranya yang berbentuk segi empat dari dasar hingga puncak—bentuk yang sangat jarang digunakan pada masa itu. Menara setinggi 50 meter ini dibangun pada masa Dinasti Seljuk sekitar tahun 1089. Para penguasa masa itu menorehkan inskripsi di dinding menara yang menyebut nama Maliksyah (penguasa Seljuk, 1072–1092), Kadi bin al-Khashshab, dan Tutush ibn Alp Arselan.

Jakarta: Kota yang Lahir dari Kemenangan Islam di Bulan Suci Ramadan

Arsitek Hasan bin Mufarraj merancang menara ini dengan pendekatan inovatif. Ia tidak menambahkan kubah di puncaknya seperti menara-menara lain, tetapi meletakkan muqarnas berbentuk segi empat sebagai pengganti kubah. Bagian ini berfungsi sebagai galeri sekaligus tempat muadzin mengumandangkan azan.

Menara tersebut memperlihatkan perpaduan gaya Romawi, Byzantine, dan Arab. Dalam buku Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim, Yulianto Sumalyo menegaskan bahwa pengaruh Romawi dan Byzantine tampak pada detail dekorasi menara seperti molding dan pelengkung-pelengkung mati. Sementara itu, pengaruh Arab tampak jelas pada kaligrafi yang mengelilingi dinding menara dan ornamen muqarnas di bawah balkon.

Struktur dan Keindahan Ruang Dalam

Para perancang Masjid Agung Aleppo menerapkan pola hypostyle, yaitu struktur dengan banyak kolom besar yang menopang atap. Mereka menempatkan sahn (halaman terbuka) di bagian tengah sebagai pusat aktivitas jamaah. Di tengah sahn, mereka membangun tempat wudhu beratap kubah yang dikelilingi air mancur kecil untuk menambah kesejukan suasana masjid.

Di sisi tempat wudhu, berdiri dua pavilion kecil yang beratap kubah dengan bentuk berbeda—satu berbentuk setengah bola dan satu lagi menyerupai kubah bawang. Kedua pavilion itu memiliki tritisan berbentuk segi delapan yang memperlihatkan keseimbangan dan keindahan proporsi arsitektur Islam klasik.

Para arsitek merancang pelengkung-pelengkung (iwan) pada bagian arcade dengan bentuk setengah lingkaran di bagian atasnya, mengikuti gaya bangunan Romawi kuno. Mereka juga menggunakan sistem konstruksi atap pelengkung silang, teknik yang berkembang dalam arsitektur Gothik Eropa abad pertengahan. Gabungan berbagai teknik ini menghasilkan karya seni arsitektur lintas budaya yang luar biasa.

Fatmawati Soekarno: Menjahit Bendera Pusaka dengan Iringan Doa dan Puasa

Ruang shalat utama berdiri kokoh di atas kolom-kolom besar berbentuk bujur sangkar seluas sekitar empat meter persegi tiap kolom. Kolom-kolom tersebut tidak hanya menopang struktur bangunan, tetapi juga menciptakan kesan megah dan kuat di ruang ibadah.

Mihrab dan Mimbar yang Bersejarah

Ketika pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan membakar sebagian besar masjid, bagian mihrab ikut hancur. Namun, Sultan Qalawun dari Dinasti Mamluk segera membangun kembali mihrab itu pada tahun 1285. Beberapa dekade kemudian, Sultan al-Nasir Muhammad bin Qalawun menambahkan mimbar yang indah dengan ukiran kayu berpola geometris khas seni Islam.

Masjid Agung Aleppo tidak sekadar menjadi tempat ibadah; masjid ini juga menunjukkan kemampuan luar biasa peradaban Islam dalam mengolah dan memadukan berbagai unsur budaya dunia. Unsur Romawi menghadirkan kekuatan struktur, pengaruh Gothik memperkaya teknik konstruksi, sementara sentuhan Arab-Islam menambahkan keindahan spiritual melalui kaligrafi dan ornamen halus.

Hingga kini, meski konflik sempat merusak sebagian bangunannya, rakyat Suriah terus berupaya memulihkannya. Masjid Agung Aleppo tetap berdiri sebagai simbol keteguhan iman dan kejayaan kebudayaan Islam. Bangunan ini mengingatkan dunia bahwa di jantung Aleppo, seni, ilmu, dan iman pernah berpadu indah dan meninggalkan warisan arsitektur yang melampaui zaman.

 

Haji Agus Salim: Diplomat “The Grand Old Man” yang Tak Pernah Tinggalkan Shalat Tarawih


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.