SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Jangan Jadi Muslim Instan, Nikmatin Aja Prosesnya: Dilihat dari Risālatul Mu‘āwanah

Jangan Jadi Muslim Instan, Nikmatin Aja Prosesnya: Dilihat dari Risālatul Mu‘āwanah

nikmati proses menjadi muslim sejati dalam risalatul muawanah
Seorang manusia duduk di tepi jalan cahaya fajar, memandangi langit yang perlahan cerah. Di udara tampak kilau lembut membentuk kaligrafi “الله”, simbol pertumbuhan iman yang halus namun nyata.

Surau.co. Kita hidup di zaman serba instan. Makanan instan, hasil instan, bahkan keinginan untuk menjadi “baik” pun instan. Banyak orang ingin menjadi muslim yang sempurna dalam semalam, hafal doa dalam sekejap, atau langsung khusyuk dalam shalat setelah satu kali muhasabah. Padahal, sebagaimana tubuh butuh waktu untuk tumbuh, iman pun butuh proses untuk matang.

Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, seorang ulama besar dari Hadramaut, dalam karyanya Risālatul Mu‘āwanah menulis dengan lembut namun tegas tentang pentingnya sabar dan istiqamah dalam menempuh jalan menuju Allah. Ia mengingatkan bahwa perjalanan spiritual bukan sprint, tapi maraton — dan setiap langkahnya punya makna.

Beliau menulis:

وَاعْلَمْ أَنَّ الطَّرِيقَ طَوِيلَةٌ، وَمَنْ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى مَشَاقِّهَا لَمْ يَبْلُغْ مَرَاتِبَهَا
“Ketahuilah, jalan menuju Allah itu panjang. Siapa yang tidak sabar terhadap kesulitannya, maka ia tidak akan sampai pada derajatnya.”

Kita sering ingin cepat merasa “tenang” setelah beribadah, cepat “dekat” dengan Allah setelah bertaubat, tapi lupa bahwa ketenangan sejati lahir dari proses panjang menata hati, menata niat, dan menata kebiasaan.

Bulan Syawal Hari ke 5, 6, 7, 9, 10 dan 8

Menjadi Muslim Itu Proses, Bukan Perlombaan

Menjadi muslim sejati bukanlah hasil dari satu kali hijrah atau satu kali menangis dalam doa, melainkan perjalanan panjang memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan perjalanan iman sebagai proses bertahap:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabūt: 69)

Ayat ini menunjukkan bahwa petunjuk Allah datang bukan dalam sekejap, melainkan melalui kesungguhan yang terus dijaga.

Habib al-Haddad menjelaskan bahwa kesungguhan itu tampak dari upaya kecil yang dilakukan dengan hati yang ikhlas. Beliau mengingatkan bahwa:

لَا تَطْلُبْ سُرْعَةَ النَّتِيجَةِ فِي طَاعَةِ رَبِّكَ، فَإِنَّ الثَّمَرَةَ لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ الصَّبْرِ وَالْمُدَاوَمَةِ
“Jangan tergesa-gesa ingin melihat hasil dari ketaatanmu kepada Tuhanmu, karena buahnya tidak akan tampak kecuali setelah kesabaran dan ketekunan.”

Kisah Hikmah Ilmu “Bulan Syawal 1, 2, 3, 4”

Kalimat ini begitu relevan hari ini. Banyak orang yang berhenti beribadah karena merasa “tidak merasakan apa-apa”. Padahal, rasa itu muncul setelah perjalanan panjang — seperti benih yang baru tumbuh setelah lama tertimbun tanah.

Bahaya Menjadi Muslim Instan

Fenomena “muslim instan” sering kali muncul ketika seseorang ingin langsung berubah total tanpa memahami dirinya sendiri. Akibatnya, perubahan itu cepat padam. Dalam istilah Habib al-Haddad, orang seperti ini adalah orang yang berjalan tanpa bekal sabar dan ilmu.

Beliau juga mengingatkan:

وَمَنْ سَارَ فِي الطَّرِيقِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَبِغَيْرِ صَبْرٍ، زَلَّتْ قَدَمُهُ وَهَلَكَ
“Barang siapa berjalan di jalan (menuju Allah) tanpa ilmu dan tanpa sabar, maka langkahnya akan tergelincir dan ia akan binasa.”

Dalam konteks hari ini, ini bisa berarti seseorang yang bersemangat di awal hijrah, tapi mudah kecewa ketika menghadapi ujian. Atau mereka yang rajin beramal ketika ramai-ramai, namun berhenti ketika tidak ada yang melihat.

Bedanya Selamat dengan Islam

Iman yang kokoh tidak tumbuh dari emosi, tapi dari pemahaman dan kebiasaan yang stabil. Habib al-Haddad menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu, amal, dan sabar — tiga hal yang menjadi pondasi spiritualitas Islam.

Nikmati Proses: Iman Itu Tumbuh, Bukan Diciptakan Seketika

Setiap manusia punya ritme pertumbuhan iman yang berbeda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Dan itu bukan masalah, selama hatinya tetap menuju Allah.

Habib al-Haddad menulis dengan indah:

كُلُّ يَوْمٍ تَقْطَعُهُ فِي طَاعَةِ اللّٰهِ فَهُوَ رِبْحٌ لَكَ، وَإِنْ كَانَ الْخَيْرُ قَلِيلًا فَسَيَزِيدُ بِالْمُدَاوَمَةِ
“Setiap hari yang engkau lalui dalam ketaatan kepada Allah adalah keuntungan bagimu. Sekalipun amalmu kecil, ia akan bertambah dengan ketekunan.”

Kalimat ini mengajarkan kita untuk menikmati proses, bukan menyesali keterlambatan. Mungkin hari ini kita baru bisa membaca satu halaman Al-Qur’an, tapi besok bisa dua. Mungkin hari ini kita masih menunduk di tengah shalat, tapi esok bisa menangis karena maknanya menyentuh.

Proses itu yang membuat iman terasa hidup. Karena iman bukan benda statis, melainkan sesuatu yang tumbuh dan menumbuhkan.

Sabar: Nafas Panjang dalam Perjalanan Spiritual

Tidak ada perjalanan spiritual tanpa sabar. Bahkan, sabar adalah ruh dari seluruh amal. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Bersabarlah, dan kesabaranmu itu tidak lain kecuali dengan (pertolongan) Allah.” (QS. An-Nahl: 127)

Habib al-Haddad menjelaskan bahwa sabar bukan sekadar menahan diri, tapi juga menerima bahwa setiap hal memiliki waktunya sendiri. Beliau menerangkan:

اِرْضَ بِقَدَرِ اللّٰهِ فِي تَطَوُّرِ نَفْسِكَ، فَإِنَّ الْعَجَلَةَ تَفْسِدُ الطَّرِيقَ
“Ridhalah terhadap ketentuan Allah dalam perkembangan dirimu, karena tergesa-gesa akan merusak jalanmu.”

Artinya, jika hari ini kita masih merasa goyah, jangan benci diri sendiri. Jika niat kita belum sempurna, jangan berhenti. Karena proses iman bukan hanya soal hasil, tapi soal kejujuran dalam berjuang.

Sabar dalam proses membuat kita lebih lembut terhadap diri sendiri, dan lebih peka terhadap rahmat Allah yang hadir perlahan-lahan.

Belajar dari Alam: Allah Menumbuhkan Secara Bertahap

Dalam banyak ayat, Allah menggambarkan penciptaan dan pertumbuhan alam secara bertahap. Itu bukan tanpa makna. Allah ingin manusia belajar bahwa semua yang bernilai lahir dari proses panjang.

وَاللّٰهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا
“Dan Allah menumbuhkan kamu dari bumi dengan pertumbuhan yang sempurna.” (QS. Nuh: 17)

Seperti tumbuhan yang tumbuh perlahan — dari biji, tunas, batang, hingga berbuah — begitu pula iman manusia. Tidak ada yang instan. Bahkan para sahabat pun tidak menjadi kuat dalam satu malam; mereka ditempa oleh waktu, ujian, dan pengorbanan.

Habib al-Haddad menggambarkan hal ini secara simbolik:

النُّفُوسُ كَالأَرْضِ، لَا تُثْمِرُ حَتَّى تُحَرَّثَ وَتُسْقَى وَتُرْعَى
“Hati manusia itu seperti tanah. Ia tidak akan berbuah sebelum dibajak, disirami, dan dirawat.”

Proses iman sering kali melelahkan. Tapi sebagaimana petani yang sabar menunggu musim panen, orang beriman pun menikmati perjalanan spiritualnya — karena ia tahu, Allah menumbuhkan sesuatu di dalam dirinya, bahkan ketika ia belum menyadarinya.

Iman yang Tumbuh Pelan Justru Lebih Kuat

Fenomena “muslim instan” sering melahirkan kelelahan spiritual. Orang yang terlalu cepat ingin sempurna akan cepat pula kecewa. Sebaliknya, mereka yang menikmati proses — berjalan perlahan tapi terus — justru memiliki iman yang kuat dan tahan lama.

Habib al-Haddad menulis:

الْخَيْرُ الَّذِي يَثْبُتُ وَيَدُومُ خَيْرٌ مِنَ الْخَيْرِ الَّذِي يَظْهَرُ وَيَزُولُ
“Kebaikan yang tetap dan berlanjut lebih baik daripada kebaikan yang tampak besar namun segera hilang.”

Kalimat ini mengandung pelajaran mendalam. Bahwa bukan banyaknya amal yang menentukan kedewasaan iman, tapi ketekunan menjaga niat dan istiqamah menjalani kebaikan kecil setiap hari.

Islam mengajarkan keseimbangan antara semangat dan ketenangan. Ketika kita beriman dengan sabar, iman itu tidak mudah diguncang oleh perubahan suasana hati.

Penutup: Iman Itu Seperti Embun, Datang Pelan Tapi Menyegarkan

Menjadi muslim bukanlah proyek cepat. Ia adalah perjalanan yang tenang tapi dalam. Setiap kesulitan dalam beribadah, setiap kegagalan memperbaiki diri, dan setiap rasa jenuh yang kita alami — semuanya bagian dari pendidikan Allah.

Habib al-Haddad berkata dengan lembut:

مَنْ ثَبَتَ عَلَى طَاعَةِ اللّٰهِ، وَإِنْ قَلَّ عَمَلُهُ، فَقَدْ فَازَ بِرِضَاهُ
“Barang siapa yang tetap teguh dalam ketaatan kepada Allah, meskipun amalnya sedikit, maka ia telah beruntung dengan ridha-Nya.”

Jadi, jangan terburu-buru menjadi sempurna. Nikmati proses menjadi lebih baik, meski pelan. Karena Allah tidak menilai dari cepatnya langkahmu, tapi dari arah hatimu. Iman itu seperti embun — datang perlahan, tapi menyegarkan jiwa.

*Gerwin Satria N

Pegiat literasi Iqro’ University Blitar


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.