Khazanah
Beranda » Berita » Menutup Hari dengan Zikir: Kiat-Kiat agar Hidup Tenang Menilik dari Kitab Riyadhus Shalihin

Menutup Hari dengan Zikir: Kiat-Kiat agar Hidup Tenang Menilik dari Kitab Riyadhus Shalihin

Seorang Muslim berzikir sebelum tidur di bawah cahaya bulan sebagai simbol ketenangan hati.
Suasana malam hening, menggambarkan ketenangan spiritual seseorang yang berzikir sebelum tidur.

Surau.co. Setiap hari kita berlari: mengejar target, menyelesaikan pekerjaan, menunaikan tanggung jawab. Namun, di penghujung hari, tubuh mungkin beristirahat — tapi tidak selalu hati. Ada gelisah yang menumpuk, pikiran yang berputar, atau kecemasan yang tak mau reda. Dalam keadaan itu, zikir menjadi tempat pulang yang paling tenang.

Zikir bukan sekadar ucapan, melainkan ruang batin untuk berdialog dengan Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

Ayat ini bukan janji kosong. Ia adalah kunci kehidupan batin yang damai. Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin bahkan menempatkan bab “Zikir dan Doa” sebagai bagian penting dari perjalanan spiritual seorang mukmin. Baginya, zikir bukan ritual tambahan, tapi kebutuhan jiwa. Menutup hari dengan zikir berarti menutup pintu kegelisahan dan membuka pintu ketenangan.

Zikir dalam Riyadhus Shalihin: Jalan Menuju Kedamaian

Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi bukan hanya kumpulan hadis, tetapi juga panduan hidup yang menuntun manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam bab Zikrullah Ta’ala, Imam Nawawi mengutip banyak hadis tentang keutamaan zikir. Salah satunya:

TAWADHU’ Sifat Mukmin sejati

سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ
Para sahabat bertanya: “Siapakah al-mufarridun, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ
“Mereka yang banyak berzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan:

الذِّكْرُ سَبَبٌ لِحَيَاةِ الْقَلْبِ وَنُورِهِ وَطُمَأْنِينَتِهِ
“Zikir adalah sebab hidupnya hati, cahayanya, dan ketenangannya.”

Dengan kata lain, orang yang menutup harinya dengan zikir berarti sedang menyalakan pelita di hatinya. Sementara dunia tertidur, ia berdialog dengan Penciptanya.

Zikir membuat hati tidak kering, meski dunia gersang. Ia seperti air bagi tanah jiwa. Karena itu, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa zikir bukan hanya amalan siang hari, tapi juga sahabat malam yang menenangkan.

Lalat dan Argumentasi Tauhid dalam QS. Al-Ḥajj: 73 (Sebuah Analisis Teologis dan Rasional)

Menata Malam: Waktu Terbaik untuk Mengingat Allah

Malam adalah waktu paling hening. Kesibukan mereda, suara dunia melemah. Dalam kesunyian itulah, zikir menemukan makna terdalamnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ كُتِبَا فِي الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ
“Apabila seorang suami membangunkan istrinya di malam hari lalu keduanya salat dua rakaat, maka mereka dicatat termasuk orang yang banyak mengingat Allah, laki-laki dan perempuan.” (HR. Abu Dawud)

Zikir di malam hari bukan hanya ibadah individual, tapi juga bentuk kasih sayang spiritual dalam keluarga. Ia menenangkan hati dan memperkuat ikatan batin.

Imam Nawawi menulis dalam Riyadhus Shalihin:

Makna Mudik dan Silaturahmi: Perjalanan Spiritual Menuju Fitrah Manusia

اللَّيْلُ مَوْقِفُ الْخَلْوَةِ مَعَ اللَّهِ وَحِينُ الْمُنَاجَاةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ
“Malam adalah waktu menyendiri bersama Allah, saat bermunajat dan memperoleh ketenangan.”

Maka, sebelum mata terpejam, sempatkanlah menyebut nama Allah. Ucapkan istighfar, tasbih, dan hamdalah. Sebab, zikir menjadikan tidur sebagai ibadah, bukan sekadar istirahat.

Kiat Menutup Hari dengan Zikir

Zikir tidak harus panjang atau berat. Ia bisa dimulai dari hal sederhana namun rutin. Berikut beberapa kiat praktis menutup hari dengan zikir, sebagaimana diajarkan dalam Riyadhus Shalihin dan hadis-hadis sahih:

  1. Membaca Tasbih, Tahmid, dan Takbir Sebelum Tidur

Rasulullah ﷺ pernah menasihati putrinya, Fatimah r.a., agar membaca:

سُبْحَانَ اللَّهِ ٣٣، الْحَمْدُ لِلَّهِ ٣٣، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ٣٤ مَرَّة
“Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dzikir sederhana ini memberi efek luar biasa. Tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga memperkuat fisik dan menentramkan pikiran.

  1. Membaca Doa Perlindungan Sebelum Tidur

Dalam Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mengutip hadis dari Abu Hurairah r.a.:

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ
“Apabila engkau beranjak ke tempat tidurmu, bacalah Ayat Kursi.” (HR. Bukhari)

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang membacanya sebelum tidur akan selalu dijaga oleh malaikat hingga pagi, dan setan tidak akan mendekatinya.

Membaca Ayat Kursi bukan sekadar rutinitas, tapi perisai spiritual. Ia membuat tidur menjadi tenang, seperti bayi yang dipeluk kasih Ilahi.

  1. Mengakhiri Hari dengan Istighfar

Rasulullah ﷺ sendiri beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda:

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّة
“Sesungguhnya hatiku kadang terlalaikan, maka aku beristighfar kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali sehari.”

Istighfar sebelum tidur ibarat menyapu debu yang menempel di hati. Ia membersihkan kesalahan, menenangkan pikiran, dan menutup hari dengan rasa damai.

Zikir dan Psikologi Ketenangan

Menariknya, zikir tidak hanya berdampak spiritual, tapi juga psikologis. Banyak penelitian modern menunjukkan bahwa aktivitas spiritual yang dilakukan secara rutin — seperti meditasi dan pengulangan afirmasi positif — menurunkan stres dan meningkatkan hormon kebahagiaan.

Zikir dalam Islam memiliki fungsi serupa, bahkan lebih dalam. Ia bukan sekadar relaksasi, tapi koneksi. Zikir menghubungkan manusia dengan sumber ketenangan sejati: Allah.

Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menjelaskan:

الذِّكْرُ يَمْنَحُ الْقَلْبَ سَكِينَةً وَيُزِيلُ الْهُمُومَ
“Zikir memberikan ketenangan kepada hati dan menghapus segala kesedihan.”

Dengan demikian, menutup hari dengan zikir bukan sekadar kegiatan spiritual, melainkan terapi batin yang menumbuhkan ketenangan mendalam.

Membiasakan Zikir dalam Kehidupan Modern

Di zaman digital ini, malam sering menjadi waktu paling bising. Notifikasi ponsel berbunyi, pikiran sibuk menatap layar, dan hati lupa pulang. Zikir menuntun kita keluar dari keramaian semu itu.

Untuk membiasakannya, ciptakan ritual kecil sebelum tidur:

  • Letakkan ponsel jauh dari tempat tidur.
  • Duduk sejenak, pejamkan mata, dan ucapkan kalimat dzikir.
  • Rasakan setiap lafaz mengalir, bukan sekadar di bibir, tapi di hati.

Zikir adalah momen “reboot” spiritual setelah hari panjang. Ia mengembalikan kesadaran bahwa kita hanyalah hamba yang bergantung pada kasih Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan yang tidak berzikir seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Bukhari)

Zikir, dengan demikian, bukan pelengkap hidup, tapi napas kehidupan itu sendiri.

Penutup: Pulang ke Keheningan, Pulang ke Allah

Setiap hari adalah perjalanan. Ada langkah yang benar, ada yang tersandung. Namun, malam selalu datang membawa kesempatan untuk pulang. Saat lidah menyebut nama Allah dan hati larut dalam zikir, semua kesalahan terasa ringan, semua luka terasa sembuh.

Menutup hari dengan zikir berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Sang Pemilik waktu. Kita memohon ampun atas hari yang berlalu dan berharap rahmat untuk hari esok.

Malam pun menjadi saksi, bahwa di balik kesibukan dunia, masih ada hamba yang berbisik lirih: “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku kembali.”

*Gerwin Satria N

Pegiat literasi Iqro’ University Blitar


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.