Pendidikan
Beranda » Berita » Merekam Hikmah di Pesantren: Kisah-Kisah dari Kitab Kuning

Merekam Hikmah di Pesantren: Kisah-Kisah dari Kitab Kuning

SANTRI MENGAJI KITAB-KUNING
SANTRI MENGAJI KITAB-KUNING

SURAU.CO-Merekam hikmah di pesantren selalu menghadirkan pengalaman yang hidup dan menyentuh batin. Merekam hikmah di pesantren bukan hanya soal mencatat isi kitab kuning, tetapi juga menangkap denyut cahaya ilmu yang lahir dari lantunan ngaji para kiai. Santri duduk bersila, membuka kitab yang warnanya mulai menguning, dan mengulang kata demi kata untuk memastikan makna tidak tertinggal.

Meski sederhana, suasana seperti ini terus mengikat hati. Para santri datang dengan niat yang jernih, membawa pena dan harapan. Mereka tidak hanya belajar tata bahasa Arab atau fiqih, tetapi juga belajar bagaimana bersikap rendah hati di hadapan ilmu. Tradisi ini tumbuh bukan dari kemewahan, tapi dari kesungguhan dan rasa cinta kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Seiring waktu berjalan, tradisi ini tetap bertahan. Meskipun dunia berubah cepat, semangat santri tidak surut. Mereka tetap menghormati gurunya, mencium tangan kiai setiap selesai ngaji, dan mencatat setiap kalimat penting agar tidak terhapus oleh waktu. Dari sini muncul nilai baru: pesantren bukan sekadar tempat belajar, tapi ruang untuk melatih jiwa.

Kitab Kuning dan Rekaman Hikmah Santri

Kitab kuning hadir sebagai pusat ilmu sekaligus saksi perjalanan ruhani. Setiap halaman menuntun santri untuk berpikir jernih dan bersikap bijak. Mereka membaca, menyalin syarah, dan menandai bagian penting dengan tinta merah. Dengan cara itu, mereka menjaga agar ilmu tidak hilang.

Selain mengaji, santri juga berdialog. Mereka saling bertanya, mendiskusikan makna, dan mencari penjelasan yang lebih luas. Saat kiai menyampaikan keterangan, semuanya terdiam, menunduk, dan menyimak penuh hormat. Tidak jarang, kalimat sederhana dari kiai justru menjadi hikmah yang paling melekat.

Abah, pada Ranjang Sunyi Itu Aku Belajar Arti Cinta yang Diam

Selanjutnya, para santri tidak hanya merekam ilmu dengan pena. Mereka merekam dengan perilaku. Mereka bangun sebelum subuh, menyapu halaman, dan tetap mengaji meski hujan turun. Sikap ini menunjukkan bahwa kitab kuning mengajarkan adab sebelum ilmu.

Sementara itu, beberapa santri mulai menuliskan pengalamannya dalam buku catatan pribadi. Mereka menulis bukan untuk terkenal, tetapi agar hati tetap terjaga dari lupa. Kebiasaan ini membuat hikmah terus hidup, bahkan ketika mereka meninggalkan pesantren.

Dari Cahaya Pesantren ke Ruang Digital

Sekarang, banyak santri membawa tradisi ini ke ruang digital. Mereka merekam pengajian, menulis ulang penjelasan kiai di media sosial, lalu membagikannya ke publik. Dengan cara ini, merekam hikmah di pesantren tidak berhenti di dinding surau, tetapi menjangkau siapa pun yang ingin belajar.

Pengalaman langsung di pesantren juga terus membekas. Penulis pernah mengikuti ngaji malam di sebuah pesantren tua. Lampu temaram, suara jangkrik, dan suara kiai yang pelan membuat suasana terasa suci. Saat itu, penulis merasa bahwa kitab kuning tidak hanya berisi teks, tetapi juga napas kehidupan.

Meskipun teknologi hadir, ruh tradisi tidak berubah. Santri tetap menjaga adab, tetap mencium tangan gurunya, dan tetap membaca kitab dengan rasa hormat. Peralihan medium justru memperkaya cara belajar, tanpa menghilangkan nilai lama.

Jurusan KPI dan Pertaruhan Wajah Islam di Ruang Publik: Antara dakwah, media, dan tanggung jawab peradaban

Pada akhirnya, merekam hikmah di pesantren berarti menjaga napas peradaban Islam agar tetap mengalir. Hikmah ini lahir dari keikhlasan, diteruskan dengan cinta, dan disebarkan tanpa pamrih untuk generasi berikutnya.

Merekam hikmah di pesantren berarti mencatat pelajaran dari kitab kuning dan kehidupan santri sehari-hari. Tidak perlu dibuat puitis, cukup melihat bagaimana mereka belajar, mencatat, dan menghormati guru. Dari sana terlihat bahwa ilmu di pesantren tumbuh dari kebiasaan yang sederhana dan konsisten.

Kitab kuning dipelajari setiap hari. Kiai membaca, santri menyimak dan mencatat bagian penting. Prosesnya tidak cepat, tetapi perlahan membuat mereka paham. Cara ini mungkin terlihat biasa, namun justru membuat ilmu lebih kuat tertanam dalam pikiran dan sikap mereka sehari-hari.

Sekarang, ada santri yang membagikan hasil belajarnya di media sosial atau catatan digital. Tujuannya sederhana, agar ilmu tidak berhenti di pesantren saja. Meskipun caranya berubah mengikuti zaman, semangat menghormati ilmu dan guru tetap dipertahankan dalam proses belajar tersebut. (Hendri Hasyim)

Mengapa Kepintaran Sering Dianggap Sebagai Kutukan? Sebuah Refleksi Sejarah

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.