Kalam
Beranda » Berita » Menyikapi Hoax Secara Qur’ani

Menyikapi Hoax Secara Qur’ani

menyikapi haox secara qur'ani
menyikapi hoaks

SURAU.CO. Hoaks berasal dari kata hoax yang berarti tipuan, berita bohong, atau informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk menyesatkan orang lain. Dalam kekinian, hoaks umumnya menyebar melalui media sosial, pesan instan, atau situs berita tidak terpercaya. Tujuannya bisa bermacam-macam — mulai dari mencari perhatian, keuntungan politik, ekonomi, hingga menimbulkan keresahan sosial.

hoaks umumnya menyebar melalui media sosial, pesan instan, atau situs berita tidak terpercaya. Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Sedangkan dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hoaks dapat menimbulkan kerusakan dan permusuhan di tengah masyarakat.

Latar Belakang Munculnya Hoaks

Perkembangan teknologi informasi yang pesat telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Media sosial memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat dan berbagi informasi secara luas tanpa batas ruang dan waktu.

Detoks Digital dengan Tadabbur: Solusi Ampuh Menjernihkan Pikiran Lelah

Hoaks muncul karena beberapa faktor. Pertama, rendahnya literasi digital dan kemampuan verifikasi informasi masyarakat. Kedua, adanya kepentingan politik dan ekonomi yang menjadikan hoax sebagai alat propaganda. Ketiga, lemahnya kontrol diri dalam berbagi informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya.

Allah SWT telah mengingatkan manusia agar tidak tergesa-gesa mempercayai berita sebelum melakukan tabayyun (klarifikasi). Dalam Al Qur’an disebutkan:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini menjadi landasan utama dalam menyikapi fenomena hoaks yang berkembang pesat belakangan ini.

Sikap Qurani Menyikapi Hoaks

Islam memberikan pedoman yang jelas dalam menghadapi berita dan informasi.

Seni Menenangkan Hati: Berdamai dengan Proses

1. Tabayyun (Klarifikasi Informasi)

Umat Islam tidak boleh mudah menyimpulkan atau menyebarkan berita tanpa bukti. Tabayyun berarti mencari kebenaran secara hati-hati dan objektif. Sikap ini menunjukkan kedewasaan berpikir dan tanggung jawab moral dalam bermedia.

2. Tathabbut (Berhati-hati dan Tidak Tergesa-gesa)

Selain tabayyun, sikap tathabbut juga penting, yaitu berhati-hati dalam menilai berita. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia harus berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu. Setiap berita yang diterima perlu disikapi dengan bijak dan tidak tergesa-gesa membagikannya, apalagi jika belum jelas kebenarannya.

3. Menjaga Lisan dan Tangan dari Keburukan

Dalam konteks media sosial, “lisan” dapat diartikan sebagai segala bentuk komunikasi, termasuk tulisan dan postingan. Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

Memahami Mimpi yang Benar (Ru’ya Shadiqah): Pesan Ilahi untuk Kesehatan Jiwa

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menyebarkan hoaks sama dengan menggunakan “tangan digital” untuk menebar keburukan. Oleh sebab itu, seorang Muslim sejati harus memastikan bahwa setiap unggahan dan komentar tidak mengandung kebohongan, caci maki, atau fitnah yang merusak.

4. Menumbuhkan Budaya Tabayyun di Masyarakat

Islam tidak hanya menuntut individu berhati-hati, tetapi juga mendorong terbentuknya masyarakat yang cerdas dan beretika dalam menerima informasi. Pendidikan tabayyun harus ditanamkan sejak dini. Menumbuhkembangkannya di lingkungan keluarga, sekolah, maupun di tengah masyarakat. Agar umat Islam menjadi generasi yang berpikir kritis namun tetap berakhlak.

5. Menghindari Ghibah dan Fitnah

Hoaks sering kali berkaitan dengan ghibah (membicarakan keburukan orang lain) dan fitnah (menyebar tuduhan palsu). Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini menggambarkan betapa menjijikkannya perbuatan menyebar keburukan orang lain. Hoaks yang mengandung fitnah sama saja dengan memakan kehormatan saudara sendiri.

Dampak Sosial dan Spiritual

Hoaks tidak hanya menimbulkan kerugian duniawi seperti perpecahan, konflik sosial, dan rusaknya reputasi seseorang, tetapi juga berdampak pada kehidupan spiritual pelakunya. Orang yang terbiasa menyebar hoaks tanpa tabayyun akan terbiasa berdusta, dan kebohongan yang berulang dapat menutup hati dari kebenaran.

Selain itu, hoax bisa menjadi penyebab permusuhan antarumat Islam. Rasulullah Muhammad SAW memperingatkan bahwa memecah belah persaudaraan umat adalah dosa besar. Oleh karena itu, membiarkan berita bohong beredar tanpa klarifikasi sama saja dengan ikut berkontribusi dalam kerusakan sosial.

Menyikapi hoaks secara Qurani berarti menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai panduan utama dalam berinteraksi dengan informasi. Islam menuntun umatnya untuk selalu tabayyun, tathabbut, dan menjaga lisan dari kebohongan. Maka, jadikan jari-jemari di dunia digital sebagai alat dakwah dan kebaikan, bukan sumber fitnah dan kebohongan.

Sebagaimana firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Qurani, umat Islam akan mampu membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan terlindung dari bahaya hoaks yang menyesatkan. ***


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.