SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Sujud yang Tak Selesai: Tentang Hormat kepada Guru

Sujud yang Tak Selesai: Tentang Hormat kepada Guru

murid mencium tangan guru sebagai bentuk hormat dan adab
Seorang murid menundukkan diri di hadapan gurunya sebagai simbol penghormatan dan cinta ilmu.

Surau.co. Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan banyak orang. Ada yang sekadar lewat, ada yang singgah sejenak, dan ada pula yang menanamkan cahaya dalam jiwa kita tanpa pernah meminta balas. Orang itu disebut guru. Kadang ia hadir dalam bentuk kiai di pesantren, dosen di ruang kelas, atau bahkan ibu yang sabar menuntun anaknya membaca huruf hijaiyah pertama kali.

Namun di zaman ini, penghormatan kepada guru semakin tipis. Murid berbicara kepada gurunya seperti kepada teman sebaya. Santri berdebat di depan kiai dengan nada tinggi. Ilmu seakan kehilangan wibawanya karena adab ikut luntur. Padahal, dalam tradisi Islam, menghormati guru adalah bagian dari sujud yang tak selesai—sebuah penghambaan yang tidak berhenti di sajadah, tetapi terus hidup dalam sikap.

Ketika Rasa Hormat Mulai Menipis

Fenomena ini mudah ditemukan. Di media sosial, kita melihat murid mencemooh guru hanya karena berbeda pandangan. Ada pula mahasiswa yang merasa lebih pintar karena membaca teori baru. Mereka lupa bahwa kecerdasan intelektual tak akan berarti tanpa kerendahan hati.

Dalam kitab Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim, Ibn Hajar al-‘Asqalānī menulis dengan sangat lembut:

وَمِنْ أَدَبِ الطَّالِبِ مَعَ مُعَلِّمِهِ أَنْ يَعْظِمَهُ وَيَحْتَرِمَهُ وَيَتَأَدَّبَ فِي مَجْلِسِهِ
“Termasuk adab murid terhadap gurunya adalah memuliakannya, menghormatinya, dan beradab di hadapannya.”

Air Mata Perpisahan Dipenghujung Ramadhan: Refleksi Iman di Akhir Bulan Penuh Rahmat

Kata ta‘ẓīm (memuliakan) dan iḥtirām (menghormati) bukan sekadar sopan santun formal. Itu adalah bentuk pengakuan bahwa ilmu yang keluar dari lisan guru adalah amanah ilahi. Maka setiap kata yang keluar darinya pantas disambut dengan hati yang bersih.

Hormat yang Lahir dari Kesadaran, Bukan Takut

Menghormati guru bukan berarti menakutinya. Hormat bukan bentuk ketundukan buta, melainkan kesadaran akan posisi sang guru sebagai jalan menuju cahaya pengetahuan. Guru adalah perantara antara murid dan makna, bukan tuhan kecil yang harus disembah.

Ibn Hajar menulis lagi:

وَلْيَكُنْ تَوَاضُعُهُ لِمُعَلِّمِهِ خَالِصًا لِلّٰهِ تَعَالَى لَا لِرَغْبَةٍ وَلَا لِرَهْبَةٍ
“Hendaklah kerendahan hati murid kepada gurunya murni karena Allah Ta‘ala, bukan karena mengharap sesuatu atau karena takut.”

Hormat yang tulus tidak lahir dari paksaan. Ia tumbuh karena cinta dan rasa syukur. Guru telah menjadi jembatan antara kebodohan dan pengetahuan, antara gelap dan terang.

Tidak Ada Yang Terlewat Dihadapan Allah (Refleksi atas QS. Al-Qamar: 53)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat bentuk kecil hormat itu. Seorang santri mencium tangan gurunya dengan hati bergetar. Seorang mahasiswa menundukkan kepala saat dosennya lewat. Atau seorang anak yang masih menunggu ucapan “bagus” dari gurunya, karena di balik itu ada makna restu.

Cahaya Ilmu Tak Akan Masuk ke Hati yang Sombong

Kita sering bersemangat mencari ilmu, membaca banyak buku, menghadiri berbagai seminar. Tapi mengapa ilmu itu terasa kering, tidak menumbuhkan kedamaian? Barangkali karena kita lupa membersihkan hati sebelum belajar.

Ibn Hajar menegaskan dalam salah satu nasihatnya:

لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مَنْ يَتَكَبَّرُ عَلَى الْمُعَلِّمِينَ وَيَسْتَحْقِرُهُم
“Tidak akan memperoleh ilmu orang yang sombong terhadap guru-gurunya dan merendahkan mereka.”

Kalimat ini keras namun jujur. Sombong terhadap guru adalah penghalang keberkahan ilmu. Sebab ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi cahaya (nūr). Dan cahaya tidak akan masuk ke hati yang tertutup oleh keangkuhan.

Hanya Dengan Al-quran Umat Meraih Kembali Kemuliaan

Sebuah hadits Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya adab terhadap orang yang memberi ilmu:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang tua kami, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak ulama kami.” (HR. Ahmad)

Menghormati guru bukanlah tradisi kuno yang harus ditinggalkan, tetapi jalan spiritual agar ilmu yang kita pelajari menjadi berkah dan hidup.

Guru Adalah Cermin, Murid Adalah Cahaya yang Memantulkan

Dalam kitab yang sama, Ibn Hajar juga menulis:

إِنَّ الْمُعَلِّمَ سَبَبٌ فِي حَيَاةِ الْقُلُوبِ كَمَا أَنَّ الْمَاءِ سَبَبٌ فِي حَيَاةِ الْأَبْدَانِ
“Sesungguhnya guru adalah sebab hidupnya hati, sebagaimana air adalah sebab hidupnya jasad.”

Guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi penyubur jiwa. Ia seperti mata air yang terus mengalir, sementara murid adalah tanah yang menerima. Jika tanahnya keras, air tak akan meresap. Jika tanahnya lembut, air akan menumbuhkan kehidupan. Begitu pula dengan murid yang beradab — ilmunya akan berbuah dalam akhlak.

Setiap kali seorang murid sujud dengan penuh rasa hormat kepada Allah, di dalamnya terselip sujud kecil yang tak terlihat: sujud penghargaan kepada guru yang telah menuntunnya menuju jalan itu. Karena sejatinya, hormat kepada guru adalah bagian dari hormat kepada ilmu, dan hormat kepada ilmu adalah bentuk ibadah kepada Allah.

Refleksi: Menundukkan Hati Sebelum Menegakkan Ilmu

Kita hidup di masa ketika pengetahuan bisa dicari di mana saja — cukup ketik di mesin pencari, semua jawaban muncul. Tapi adab tak bisa dicari lewat gawai. Ia hanya bisa ditularkan oleh hati yang pernah belajar menunduk.

Maka, sebelum kita membuka kitab, mari buka hati. Sebelum mengoreksi orang lain, mari koreksi niat. Dan sebelum menilai guru, mari renungi betapa besar jasanya menyalakan lentera di dalam diri kita.

Sujud yang tak selesai itu bukan sekadar gerakan tubuh, melainkan keadaan hati. Ia berlangsung selama murid masih menyebut nama gurunya dengan hormat, meski sang guru sudah tiada. Karena adab tidak mati bersama waktu. Ia hidup di dada murid yang tahu cara berterima kasih.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.