Menegakkan keadilan adalah ibadah yang lebih besar dari seribu ritual. Frasa ini bukan sekadar retorika indah, melainkan inti dari pesan syariat yang sering terlupakan. Kita terlalu sibuk menghitung rakaat, mengulang bacaan wirid, atau memperdebatkan sunnah-sunnah kecil, tetapi menutup mata terhadap ketidakadilan yang merajalela di sekitar. Ibn Taimiyah dalam al-Siyāsah al-Syar‘iyyah menekankan bahwa keadilan adalah nafas utama sebuah negeri, bahkan lebih penting dari sekadar simbol-simbol ibadah.
Ketika doa tak sampai langit karena hak orang lain terinjak
Saya pernah mendengar keluhan seorang ibu pedagang kecil. Lapaknya digusur tanpa ganti rugi, sementara ia tetap dituntut bayar pajak retribusi. Dengan suara serak ia berkata:
“Saya shalat tiap hari, saya berdoa tiap malam, tapi apa gunanya kalau anak saya lapar karena tanah saya dirampas?”
Kisah ini seakan menyuarakan pesan Ibn Taimiyah:
إِنَّ الْمَقْصُودَ بِالسُّلْطَانِ وَالْوِلَايَةِ إِقَامَةُ الدِّينِ وَنُصْرَةُ الْعَدْلِ
“Sesungguhnya tujuan dari kekuasaan dan kepemimpinan adalah menegakkan agama dan menolong keadilan.”
Ibadah tanpa keadilan hanyalah ritual kosong. Sebaliknya, keadilan yang ditegakkan adalah ibadah sosial yang pahalanya mengalir untuk banyak jiwa.
Negeri berdiri di atas tiang keadilan
Sejarah menyimpan pelajaran pahit: kerajaan besar runtuh bukan karena kurang masjid, tapi karena hukum dipermainkan oleh elit. Ibn Taimiyah menulis dengan tegas:
إِنَّ اللَّهَ يُقِيمُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً، وَلَا يُقِيمُ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُسْلِمَةً
“Sesungguhnya Allah menegakkan negara yang adil meskipun kafir, dan tidak menegakkan negara yang zalim meskipun muslim.”
Inilah rahasia peradaban. Adil adalah fondasi, sementara tirani hanya menanam benih kehancuran.
Berapa banyak negeri hari ini yang rajin bersyiar agama, tapi membiarkan rakyatnya tercekik karena hukum hanya milik yang kuat?
Dialog nurani di antara rakyat dan penguasa
Di sebuah diskusi sederhana di balai desa, seorang pemuda bertanya:
Pemuda: “Pak, apa gunanya pemimpin yang rajin tampil di masjid, tapi menutup mata dari korupsi?”
Sesepuh: “Nak, pemimpin yang adil lebih mulia daripada seribu khutbah pembangunan.”
Jawaban sesepuh itu menyatu dengan nasihat Ibn Taimiyah:
عَلَى الْوَالِي أَنْ يَجْعَلَ أَكْبَرَ هَمِّهِ الْعَدْلَ بَيْنَ الرَّعِيَّةِ، فَهُوَ مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ
“Seorang pemimpin wajib menjadikan perhatian terbesar adalah keadilan bagi rakyat, karena itu termasuk ibadah paling agung.”
Sebuah penelitian World Bank (2021) menunjukkan bahwa negara dengan sistem hukum adil dan transparan memiliki pertumbuhan ekonomi lebih stabil serta tingkat kepercayaan sosial lebih tinggi. Ini membuktikan pandangan Ibn Taimiyah masih relevan: keadilan bukan sekadar norma moral, tapi juga fondasi kesejahteraan. Maka;
- Tegakkan keadilan di lingkup terkecil: keluarga, komunitas, pekerjaan.
- Jangan ragu menyuarakan kebenaran meski berbeda arus.
- Dukung gerakan sosial yang melawan diskriminasi hukum.
- Jadikan suara kita sebagai saksi, bukan sekadar bisikan di ruang sunyi.
Ibadah yang melampaui dinding masjid
Keadilan adalah ibadah yang tidak berhenti di mihrab. Ia menembus pasar, kantor, dan ruang sidang. Ibn Taimiyah menulis:
مَا لَا يَقُومُ الدِّينُ إِلَّا بِهِ مِنَ الْعَدْلِ وَإِزَالَةِ الظُّلْمِ فَهُوَ مِنْ أَعْظَمِ الْوَاجِبَاتِ
“Segala sesuatu yang tanpanya agama tidak akan tegak, yaitu keadilan dan penghapusan kezaliman, maka itu termasuk kewajiban terbesar.”
Inilah pesan abadi: shalat menjaga hati, zakat membersihkan harta, tapi keadilan menjaga kehidupan seluruh umat.
Kita boleh punya masjid megah, mimbar tinggi, atau lantunan doa panjang. Namun tanpa keadilan, semua akan runtuh seperti pasir dihembus angin.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُقِيمِينَ لِلْعَدْلِ، وَاجْعَلْ بِلَادَنَا بِلَادًا يَسُودُهَا الْحَقُّ وَتَزُولُ عَنْهَا الْمَظَالِمُ
“Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang menegakkan keadilan. Jadikan negeri kami negeri yang dikuasai kebenaran dan terhapus darinya kezaliman.”
Pertanyaannya: beranikah kita menjadikan keadilan sebagai ibadah, atau kita puas dengan ritual tanpa makna sosial?
* Reza Andik Setiawan
Pengasuh ruang kontemplatif Serambi Bedoyo Ponorogo
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
