Kisah Nabi Ayyub: Ketika Segalanya Sirna, Hanya Allah yang Tersisa
Dalam setiap badai kehidupan, ada satu nama yang selalu menjadi mercusuar kesabaran: Nabi Ayyub. Kisahnya, yang penuh ujian berat, mengajarkan kita tentang keteguhan iman dan makna sejati dari berserah diri.
Puncak Kehidupan yang Gemilang Nabi Ayyub
Nabi Ayyub bukanlah orang biasa. Tuhan mengaruniai ia kekayaan melimpah berupa ribuan ternak, ladang yang luas, dan keluarga besar dengan empat belas anak. Tubuhnya sehat, namanya harum di masyarakat. Namun, kemuliaannya bukan terletak pada harta, melainkan pada hati yang sabar dan lisan yang tak henti bersyukur.
Badai Ujian yang Bertubi-tubi
Suatu hari, musibah datang tanpa ampun. Api membakar peternakan, topan melanda ladang, perampok mengambil ternak, dan kecelakaan menewaskan para pekerja. Kabar buruk datang silih berganti. Setiap kali, Ayyub hanya menjawab, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali). Ia tidak mengeluh, tidak memberontak, apalagi menyalahkan Tuhan. Ia hanya bersujud.
Tak lama setelah kehilangan harta, badai lain menerjang: keempat belas anaknya wafat karena bangunan roboh saat badai besar. Sekali lagi, Ayyub berucap, “Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil. Segala puji hanya bagi Allah.”
Penyakit, Keterasingan, dan Kesetiaan yang Diuji
Ujian terberat kemudian menimpa fisiknya. Penyakit kulit yang parah menyerang tubuh Nabi Ayyub. Satu per satu orang-orang terdekat meninggalkannya, kecuali sang istri, wanita setia yang menemaninya setiap hari. Namun, setelah 18 tahun tak kunjung sembuh, bahkan istrinya pun mulai goyah.
“Wahai Ayyub… sampai kapan kamu terus begini? Mintalah kepada Tuhanmu agar menyembuhkanmu…” ujar sang istri, sebuah permintaan yang manusiawi.
Namun, Ayyub menjawab, “Aku malu kepada Tuhanku. Aku sehat dan diberi nikmat selama tujuh puluh tahun. Tidakkah aku bersabar selama tujuh puluh tahun pula?” (Tafsir Ibnu Katsir). Bagi Ayyub, sabar adalah bentuk cinta tertinggi. Saat itulah, sang istri pun pergi, meninggalkannya sendirian.
Tuduhan dan Doa Tulus
Di tengah penderitaannya, Nabi Ayyub tak hanya sakit, miskin, dan sebatang kara, bahkan orang terdekat pun mulai berprasangka buruk. Dua saudaranya menuduh Ayyub pasti telah melakukan dosa besar, karena Allah tak kunjung merahmatinya. Ayyub hanya menjawab, “Aku tidak tahu apa yang kalian tuduhkan. Tapi Allah Maha Tahu….” (Al-Bidāyah wa An-Nihāyah).
Setelah bertahun-tahun sendirian, Ayyub akhirnya berdoa. Namun, doanya bukan keluhan atau tuntutan, melainkan pengakuan lembut: “Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit. Dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang dari semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83).
Mukjizat dan Pemulihan Penuh Berkah
Dan Allah menjawab doanya: “Hantamkan kakimu ke tanah. Itulah air sejuk untuk mandi dan minum.” (QS. Shad: 42).
Air itu memulihkannya seketika. Tubuhnya sembuh, wajahnya kembali tampan, istrinya kembali, dan hartanya dikembalikan dua kali lipat. Anak-anaknya pun lahir kembali. Nabi Ayyub dikembalikan kepada kemuliaan, bahkan lebih dari sebelumnya. “Semua itu Kami kembalikan sebagai rahmat dari Kami, dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Shad: 43).
Hikmah Besar dari Kisah Nabi Ayyub
Dalam psikologi modern, kita bisa mengkategorikan kondisi yang dialami Nabi Ayyub sebagai “depresi berat dengan kehilangan total”. Namun, apa yang membuatnya tidak runtuh?
Nabi Ayyub memandang makna hidupnya tidak bergantung pada hal-hal duniawi. Ia tidak berkata, “Saya bahagia karena harta,” atau “Saya berharga karena anak-anak.” Ia tidak berkata, “Saya kuat karena tubuh ini sehat.”
Ayyub hanya menggantungkan makna hidupnya pada satu hal yang tak bisa dicuri oleh takdir: Ridha Allah.
Kisah Nabi Ayyub mengajarkan kita bahwa ketika semua pergi, Allah sedang mengajarkan siapa yang tidak pernah pergi. Mungkin kita sedang mengalami kehilangan, kesulitan finansial, atau masalah kesehatan. Doa terasa sepi, tangis tak tertahankan. Namun, ingatlah: Allah tidak meninggalkan Ayyub. Allah hanya sedang menyucikannya. Allah mengujinya, bukan membencinya.
Terkadang, Allah harus mengambil semua agar kita sadar bahwa Dialah satu-satunya yang tak akan pernah pergi. Sakit bukanlah selalu azab, kadang itu adalah jalan untuk “naik kelas”. Jangan pernah menilai musibah orang lain dengan logika dosa; bisa jadi mereka sedang dimuliakan di sisi Allah.
Kadang Allah tidak mengangkat derita karena ingin mengangkat derajat. Kadang Allah tidak mempercepat doa karena ingin memperdalam iman. Pada akhirnya, ketika semua orang pergi, Nabi Ayyub tahu satu hal: Allah tidak pernah meninggalkannya.
Sumber: Al-Bidāyah wan-Nihāyah, Ibnu Katsir, Jilid 2; Tafsir Ibnu Katsir, Surah Shad: 42–43 dan Al-Anbiya: 83
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
